PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Disusun sebagai tugas Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Tawfik Firdaus, M.Pd.I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan
manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan.
Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital
dalam kelangsungan hidup manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam
sejarah perjalanannya memiliki berbagai dinamika. Eksistensi pendidikan Islam
senyatanya telah membuat kita terperangah dengan berbagai dinamika dan
perubahan yang ada.
Berbagai perubahan dan perkembangan dalam pendidikan Islam
itu sepatutnya membuat kita senantiasa terpacu untuk mengkaji dan meningkatkan
lagi kualitas diri, demi peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan Islam di
Indonesia. Telah lazim diketahui, keberadaan pendidikan Islam di Indonesia
banyak diwarnai perubahan, sejalan dengan perkembangan zaman serta ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada. Sejak dari awal pendidikan Islam, yang
masih berupa pesantren tradisional hingga modern, sejak madrasah hingga sekolah
Islam bonafide, mulai Sekolah Tinggi Islam sampai Universitas Islam, semua tak
luput dari dinamika dan perubahan demi mencapai perkembangan dan kemajuan yang
maksimal. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah kita mencermati dan memahami
bagaimana kemunculan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, untuk
kemudian dapat bersama-sama meningkatkan kualitasnya, demi tercipta pendidikan
Islam yang humanis, dinamis, berkarakter sekaligus juga tetap dalam koridor
Alqur’an dan Assunah.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah yang
akan dicoba untuk dikaji dan digali, sehingga diharapkan mampu menambah wawasan
terkait pendidikan Islam dan eksistensinya di Indonesia. Beberapa rumusan
masalah tersebut di antaranya:
1. Bagaimana akar dan awal mula pendidikan Islam di
Indonesia?
2. Apa saja jenis lembaga-lembaga pendidikan Islam di
Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan pendidikan Islam di Indonesia
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
A. Pesantren; Akar Pendidikan Islam di Indonesia
Terkait kemunculan dan masuknya Islam di Indonesia, sampai
saat ini masih menjadi kontroversi di kalangan para ilmuwan dan sejarawan.
Namun demikian, mayoritas dari mereka menduga bahwa Islam telah diperkenalkan
di Indonesia sekitar abad ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui
jalur perdagangan dari Teluk Parsi dan Tiongkok. Kemudian pada abad ke-11M
sudah dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk di kepulauan Nusantara melalui
kota-kota pantai di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Dan, pada abad
itu pula muncul pusat-pusat kekuasaan serta pendalaman studi ke-Islaman. Dari
pusat-pusat inilah kemudian akhirnya Islam dapat berkembang dan tersebar ke
seluruh pelosok Nusantara. Perkembangan dan perluasan Islam itu tidak lain
melalui para pedagang muslim, wali, muballigh dan ulama’ dengan cara pendirian
masjid, pesantren atau dayah atau surau.
Pada dasarnya, pendidikan Islam di Indonesia sudah
berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal, pendidikan
Islam dimulai dari kontak-kontak pribadi maupun kolektif antara muballigh
(pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah komunitas muslim daerah terbentuk
di suatu daerah tersebut, mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini
masjid. Masjid merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama muncul, di
samping rumah tempat kediaman ulama’ atau muballigh.
Setelah penggunaan masjid sudah cukup optimal, maka kemudian
dirasa perlu untuk memiliki sebuah tempat yang benar-benar menjadi pusat
pendidikan dan pembelajaran Islam. Untuk itu, muncullah lembaga pendidikan
lainnya seperti pesantren, dayah ataupun surau. Nama–nama tersebut walaupun
berbeda, tetapi hakikatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan
keagamaan.
Pesantren sebagai akar pendidikan Islam, yang menjadi pusat
pembelajaran Islam setelah keberadaan masjid, senyatanya memiliki dinamika yang
terus berkembang hingga sekarang. Menurut Prof. Mastuhu, pesantren adalah
lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami,
menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral
keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
Pesantren sejatinya telah berkiprah di Indonesia sebagai
pranata kependidikan Islam di tengah-tengah masyarakat sejak abad ke-13 M,
kemudian berlanjut dengan pasang surutnya hingga sekarang. Untuk itulah, tidak
aneh jika pesantren telah menjadi akar pendidikan Islam di negeri ini. Karena
senyatanya, dalam pesantren telah terjadi proses pembelajaran sekaligus proses
pendidikan; yang tidak hanya memberikan seperangkat pengetahuan, melainkan juga
nilai-nilai (value). Dalam pesantren, terjadi sebuah proses pembentukan tata
nilai yang lengkap, yang merupakan proses pemberian ilmu secara aplikatif.
Menurut Muhammad Tolhah Hasan dalam bukunya Dinamika Tentang
Pendidikan Islam, disebutkan bahwa komponen-komponen yang ada dalam pesantren
antara lain:
a. Kyai, sebagai figur sentral dan dominan dalam pesantren,
sebagai sumber ilmu pengetahuan sekaligus sumber tata nilai.
b. Pengajian kitab-kitab agama (kitab kuning), yang
disampaikan oleh Kyai dan diikuti para santri.
c. Masjid, yang berfungsi sebagai tempat kegiatan pengajian,
disamping menjadi pusat peribadatan.
d. Santri, sebagai pencari ilmu (agama) dan pendamba
bimbingan Kyai.
e. Pondok, sebagai tempat tinggal santri yang menampung
santri selama mereka menuntut ilmu dari Kyai.
Sedangkan dalam proses pembelajaran dan proses pendidikan,
di pesantren menggunakan dua sistem yang umum, yakni:
a. Sistem “sorogan” yang sifatnya individual, yakni seorang
santri mendatangi seorang guru yang akan mengajarkan kitab tertentu, yang
umumnya berbahasa Arab.
b. Sistem “bandongan” yang sering disebut dengan sistem
weton. Dalam sistem ini, sekelompok santri mendengarkan dan menyimak seorang
guru yang membacakan, menerjemahkan dan mengulas kitab-kitab kuning. Setiap
santri memperhatikan kitab masing-masing dan membuat catatan yang dirasa perlu.
Kelompok bandongan ini jika jumlahnya tidak terlalu banyak,
maka disebut dengan halaqoh yang arti asalnya adalah lingkaran. Di
pesantren-pesantren besar, ada lagi sistem lain yang disebut musyawarah, yang
diikuti santri-santri senior yang telah mampu membaca kitab kuning dengan baik.
Hingga kini, keberadaan pesantren telah mengalami berbagai
dinamika, sejak dari pesantren tradisional hingga pesantren modern.
B. Lembaga-lembaga pendidikan Islam setelah Pesantren
Eksistensi pesantren senyatanya mendorong lahirnya
lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya, antara lain:
a. Madrasah
Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang lebih
modern dibanding pesantren, baik ditinjau dari sisi metodologi maupun kurikulum
pengajarannya. Kendati demikian, kemunculan madrasah ini tidak lain diawali
oleh keberadaan pesantren. Sebagian lulusan pesantren melanjutkan pendidikan
yang lebih tinggi ke beberapa pusat kajian Islam di beberapa negara Timur
Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir. Lulusan-lulusan Islam Timur Tengah
itulah yang kemudian akhirnya menjadi pemrakarsa pendirian madrasah-madrasah di
Indonesia.
Dalam madrasah, sistem pembelajaran tidak lagi menggunakan
sorogan ataupun bandongan, melainkan lebih modern lagi. Madrasah telah
mengaplikasikan sistem kelas dalam proses pembelajarannya. Elemen yang ada
dalam madrasah juga bukan lagi Kyai dan santri, tetapi murid dan guru
(ustad/ustadzah). Dan metode yang digunakan juga beragam, bisa ceramah, atau
drill dan lain-lain, tergantung pada ustad/ustadzah atau guru.
b. Sekolah-sekolah Islam
Di samping madrasah, lembaga pendidikan Islam yang
berkembang hingga sekarang adalah sekolah-sekolah Islam. Pada dasarnya, kata
sekolah merupakan terjemah dari madrasah, hanya saja madrasah adalah kosa kata
bahasa Arab, sedangkan sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun demikian, pada
aplikasinya terdapat perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam. Madrasah
berada dalam naungan Kementrian Agama (Kemenag), sedangkan sekolah Islam pada
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu,dari segi bobot
muatan materi keagamaannya, madrasah lebih banyak materi agama dibanding
sekolah Islam.
c. Pendidikan Tinggi Islam
Pendidikan Tinggi Islam juga merupakan salah satu lembaga
pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah, pendidikan tinggi Islam yang
tertua adalah Sekolah Tinggi Islam (STI), yang menjadi cikal bakal pendidikan
tinggi Islam selanjutnya. STI didirikan pada 8 Juli 1945 di Jakarta, kemudian
dipindahkan ke Yogyakarta, dan pada tahun 1948 resmi berganti nama menjadi
Universitas Islam Indonesia (UII). Selanjutnya, UII merupakan bibit utama dari perguruan-perguruan
tinggi swasta yang kemudian berkembang menjadi beberapa Universitas Islam yang
populer di Indonesia, seperti misalnya Universitas Ibn Kholdun di Bogor,
Universitas Muhammadiyah di Surakarta, Universitas Islam Sultan Agung di
Semarang, Universitas Islam Malang (UNISMA) di Malang, Universitas Islam Sunan
Giri (UNSURI) di Surabaya, Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) di Jombang dan
lain-lain.
Menurut Tolhah Hasan, perkembangan dan kemajuan perguruan
tinggi Islam di Indonesia banyak ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya:
kredibilitas kepemimpinan, kreativitas manajerial kelembagaan, pengembangan
program akademik yang jelas dan kualitas dosen yang memiliki tradisi akademik.
C. Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia
Tak dapat dipungkiri, bahwa seiring berjalannya waktu,
lembaga-lembaga pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika. Tak hanya
pada pesantren, bahkan madrasah dan perguruan tinggi Islam pun tak luput dari
dinamika yang ada.
Pesantren yang dulunya masih tradisional senyatanya mengalami
beberapa perubahan dan perkembangan, seiring dengan perkembangan zaman, ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pesantren yang dulunya tradisional, dalam pola
pembelajaran dan muatan materi serta kurikulumnya, kini telah mengalami
perkembangan dengan mengadaptasi beberapa teori-teori pendidikan yang dirasa
bisa diterapkan di lingkungan pesantren. Alhasil, kini semakin banyak
bermunculan pesantren modern, yang dalam pola pembelajarannya tidak lagi
konvensional, tapi lebih modern dengan berbagai sentuhan manajemen pendidikan
yang dinamis. Mayoritas pesantren dewasa ini juga memberikan materi dan muatan
pendidikan umum. Tidak sedikit pesantren yang sekaligus memiliki lembaga
sekolah dan manajemennya mengacu pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sedangkan dinamika sistem pendidikan madrasah dapat dicatat
dari beberapa perubahan, seperti dimasukkannya mata pelajaran umum dalam
kurikulumnya, meningkatkan kualitas guru dengan memperhatikan syarat kelayakan
mengajar, membenahi manajemen pendidikannya melalui akreditasi yang
diselenggarakan pemerintah, mengikuti ujian negara menurut jenjangnya.
Tak pelak, bahwa dinamika pendidikan Islam, di samping
kemadrasahan, juga muncul persekolahan yang lebih banyak mengadopsi model
sekolah barat. Dan, kemunculannya itu antara lain dipicu oleh kebutuhan
masyarakat muslim yang berminat mendapatkan pendidikan yang memudahkan memasuki
lapangan kerja dalam lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta yang
mensyaratkan memiliki keterampilan tertentu, seperti teknik, perawat kesehatan,
administrasi dan perbankan.
Pada perguruan tinggi Islam pun sejatinya juga mengalami
berbagai perubahan dan perkembangan. Dinamika dalam pendidikan tinggi Islam ini
salah satunya dapat diraba dari perubahan status dari Sekolah Tinggi, menjadi
Institut, hingga kini menjadi Universitas. Dengan demikian, materi dan bahan
ajar yang ditawarkan di perguruan tinggi Islam yang kini mayoritas menjadi
Universitas, tidak hanya disiplin ilmu agama Islam saja, melainkan juga
berbagai disiplin ilmu umum.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan pada paparan dan analisa di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pendidikan Islam di Indonesia sejatinya berlangsung sejak
masuknya Islam di Indonesia dengan masjid sebagai pusat peribadatan dan tempat
belajar. Setelah penggunaan masjid cukup optimal, maka muncullah pesantren yang
kemudian menjadi akar pendidikan Islam di Indonesia.
2. Keberadaan pesantren senyatanya mendorong lahirnya
lembaga-lembaga pendidikan Islam lain setelah pesantren, di antaranya madrasah,
sekolah-sekolah Islam dan Perguruan Tinggi Islam.
3. Dalam perjalanannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam tak
luput dari berbagai dinamika yang ada, seiring dengan perkembangan zaman.
Pesantren, dari jenis pesantren tradisional ke pesantren modern. Madrasah yang
semakin memperbaiki kualitasnya dengan berbagai upaya, salah satunya
peningkatan kualitas guru. Dan, perguruan tinggi Islam yang dulunya masih
berstatus Sekolah Tinggi, berkembang menjadi Institut hingga akhirnya menjadi
Universitas.
Daftar Pustaka
Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi Tentang
Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Hasan, M. T. (2006). Dinamika Pemikiran Tentang Pendidikan
Islam. Jakarta: Lantabora Press.
Mastuhu. (1994). Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu
Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren . Jakarta:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar